Tampilkan postingan dengan label Kanker. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kanker. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Mei 2011

Awas! Paracetamol Picu Kanker

Awas! Paracetamol Picu Kanker

INILAH.COM, Jakarta - Studi terbaru menunjukkan banyak mengkonsumsi pereda nyeri golongan paracetamol dan asetaminofen meningkatkan risiko terkena kanker darah.

Pada studi awal para peneliti di Amerika, diketahui bahwa bahwa penggunaan aspirin memang bisa menurunkan risiko kematian akibat kanker kolon, tetapi bisa meningkatkan risiko perdarahan perut. Namun belum jelas apakah perdarahan itu karena kanker darah atau hematologi.

"Sebelumnya hanya sedikit bukti yang menguatkan bahwa aspirin menurunkan risiko kanker hematologi (berkaitan dengan darah)," kata Emily White, peneliti di bidang kanker.

Peneliti mengatakan, pada kasus-kasus individual memang terdapat kaitan konsumsi obat penghilang nyeri dengan meningkatnya risiko kanker. Namun studi individual semacam itu tidak dianggap sebagai bukti ilmiah sebelum dilakukan studi pada populasi yang besar dalam jangka panjang.

"Studi yang kami lakukan ini sangat prospektif," kata White, meski ia belum bisa menyimpulkan obat analgesik menyebabkan kanker.

Dalam penelitiannya, White dan tim mengikuti lebih dari 65.000 pria dan wanita berusia lanjut di Negara Bagian Washington, Amerika Serikat. Para responden ditanya tentang kebiasaan mereka mengonsumsi obat pereda nyeri dalam 10 tahun terakhir dan dipastikan mereka tidak menderita kanker, kecuali kanker kulit.

Enam tahun sejak awal studi, 577 orang atau kurang dari satu persen menderita kanker yang melibatkan sel darah, misalnya limfoma.

Lebih dari 9% orang yang menderita kanker itu menggunakan obat pereda nyeri asetaminofen dibandingkan dengan lima persen orang yang juga mengonsumsi, tapi tidak terkena kanker.

Kemudian, setelah mempertimbangkan faktor usia, penyakit artritis, dan riwayat keluarga yang menderita kanker darah, ternyata orang yang mengonsumsi obat pereda nyeri dalam jangka panjang memiliki risiko dua kali lebih besar menderita kanker.

"Orang yang berusia di atas 50 tahun memiliki risiko kanker darah dalam 10 tahun. Namun, jika Anda mengonsumsi asetaminofen paling tidak empat kali dalam seminggu selama minimal empat tahun, risiko terkena kanker tadi akan naik menjadi dua persen," kata White.

Dalam penelitian ini, tidak ditemukan kaitan antara obat pereda nyeri lain seperti ibuprofen dan aspirin.

Dr Raymond DuBois, ahli pencegahan kanker, mengatakan, asetaminofen atau paracetamol bekerja dengan cara berbeda dibandingkan dengan obat analgesik lainnya sehingga memiliki efek berbeda pula pada kanker.

"Namun, tetap mengejutkan bahwa penggunaan asetaminofen meningkatkan risiko kanker darah," katanya.

Sementara itu, produsen yang memproduksi Tylenol, obat pereda nyeri asetaminofen, tidak merespons hasil penelitian ini.

White juga mengatakan masih terlalu dini membuat rekomendasi terkait dengan hasil penelitian ini. Meski begitu, ia mengatakan tidak ada obat pereda nyeri yang bebas dari efek samping.

"Penggunaan jangka panjang obat yang dijual bebas memang menimbulkan dampak berbahaya," ungkap White. [mor]


http://id.berita.yahoo.com/awas-paracetamol-picu-kanker-154100863.html

Rabu, 30 Maret 2011

Mitos Seputar Deodoran Pemicu Kanker

Mitos Seputar Deodoran Pemicu Kanker
Deodoran mengandung antiperspiran meningkatkan risiko kanker payudara. Benarkah mitos ini?
JUM'AT, 25 MARET 2011, 12:09 WIB
Pipiet Tri Noorastuti, Febry Abbdinnah

VIVAnews - Kandungan bahan kimia dalam produk kecantikan seringkali memicu perdebatan di tengah masyarakat. Informasi mengenai efek buruknya bagi kesehatan tak jarang berkembang liar menjadi sebuah mitos menyesatkan.

Seperti dikutip dari laman Shine, mitos semacam itulah yang memicu banyaknya wanita berhenti meninggalkan deodoran mengandung antiperspiran dan beralih ke deodoran yang lebih lembut. Mereka terjebak informasi yang menyebut antiperspiran dapat memicu kanker payudara.

Berikut lima mitos mengenai deodoran mengandung antiperspiran yang beredar di masyarakat:

1. Deodoran mengandung antiperspiran meningkatkan risiko kanker payudara.

2. Menggunakan deodoran sesaat setelah mencukur mengakibatkan zat kimia yang terkandung di dalamnya mudah menembus sel kulit. Ini memperbesar risiko munculnya kanker payudara.

3. Zat parabens di dalamnya dapat mengakibatkan penyakit.

4. Antiperspiran mencegah keringat keluar dari kulit, sehingga keringat yang banyak mengandung racun keluar melalui jalur lain seperti kelenjar getah bening. Racun pun akan menumpuk di jaringan payudara.

5. Pria memiliki risiko kanker payudara lebih rendah dibanding wanita. Ini karena deodoran terhalang rambut di ketiak pria dan tidak terserap langsung oleh kulit.

Menanggapi mitos yang berkembang liar tersebut, The American Cancer Society mengatakan bahwa semua informasi tersebut tidak benar. Hingga kini, belum ada penelitian yang membuktikan bahwa deodoran dapat memicu kanker payudara.

Fakta penelitian pada 2003 terhadap 813 wanita dengan kanker payudara dan 793 wanita tanpa kanker payudara menunjukkan, tidak ada hubungan antara kanker payudara dan penggunaan deodoran.

Jadi, Anda tidak perlu lagi khawatir menggunakan deodoran yang mengandung antiperspiran. Anda pun tetap dapat tampil percaya diri dan cantik, serta sehat dengan menggunakan produk deodoran kesayangan Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat mengunjungi www.cancer.org. (pet)

• VIVAnews

Senin, 21 Maret 2011

Penggunaan Kaporit untuk Memutihkan Air Bisa Picu Kanker

Senin, 21/03/2011 16:11 WIB

Penggunaan Kaporit untuk Memutihkan Air Bisa Picu Kanker

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth



img
foto: Thinkstock
Depok, Teknologi yang dipakai oleh perusahaan air minum (PAM) saat ini dinilai sudah ketinggalan zaman dan malah bisa membahayakan kesehatan. Kaporit untuk memurnikan air bisa memicu kanker jika digunakan secara berlebihan dan terus menerus.

"Di banyak negara, chlor (kaporit) sudah mulai ditinggalkan dan diganti teknologi lain yang lebih aman misalnya ultraviolet," ungkap pakar teknik lingkungan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Dr Ir Setyo Sarwanto Mursidik, dalam seminar "Pencemaran Air Minum: Dampak Kesehatan dan Solusinya" di kampus FKM UI Depok, Senin (21/3/2011).

Menurut Ir Setyo, kaporit dalam air PAM sebetulnya tidak banyak. Untuk menjaga kualitas bakteriologis di jaringan terjauh, kaporit hanya dibutuhkan sebanyak 0,2 ppm.

Namun karena buruknya jaringan PAM terutama di kota besar seperti Jakarta, kaporit yang digunakan bisa lebih banyak agar bisa menjangkau pelanggan yang jaraknya cukup jauh. Akibatnya, kadarnya bisa lebih tinggi dari yang seharusnya yakni 0,2 ppm.

"Di kolam renang saja kita bisa merasakan sendiri, kaporit yang terlalu tinggi bisa menyebabkan iritasi kulit apalagi jika diminum, masuk saluran pencernaan. Chlor atau chlorin bersifat karsinogenik sehingga bisa menyebabkan kanker," ungkap Ir Setyo.

Ir Setyo menambahkan, secara teknis tidak mungkin ada solusi tunggal untuk mengatasi masalah pencemaran air. Penggunaan kaporit tidak bisa digantikan dengan satu metode saja, melainkan harus mengombinasikan berbagai metode pemurnian air agar hasilnya lebih aman.

Ia mencontohkan, metode pemurnian air yang bisa dikombinasikan adalah reverse osmosis (RO). Metode ini dinilai paling ekonomis dan mampu menghilangkan 90-99 persen kontaminan, termasuk bakteri dan material organik berukuran di atas 300 dalton.

Namun karena melibatkan membran-membran yang sangat ketat, metode ini menghasilkan laju aliran yang lambat. Keterbatasan ini membuat metode RO tidak bisa mengolah air dalam jumlah banyak, sehingga tetap harus dikombinasikan dengan metode yang lain.


(up/ir)

Rabu, 06 Oktober 2010

Minyak Goreng Bekas Picu Kanker

Minyak Goreng Bekas Picu Kanker

Melly Febrida
03/10/2010 11:06 | Kesehatan
Liputan6.com, Pangkal Pinang: Minyak goreng bekas dapat menyebabkan berbagai penyakit kanker karena mengandung racun bentonit. Minyak goreng yang telah dipakai menggoreng sebanyak tiga kali merupakan cairan yang tidak sehat.

Hal ini disampaikan Kepala Bagian Penyehatan Masyarakat pada Dinkes Kota Pangkalpinang, Hester, Ahad (3/10).

"Minyak goreng bekas sering digunakan pedagang kaki lima untuk mencari keuntungan besar dengan mengorbankan kesehatan konsumen," ujar Hester.

Hester menjelaskan, minyak goreng bekas yang mengandung bentonit dan senyawa mineral montmorillonite biasa digunakan sebagai bahan pemucat crude palm oil (CPO). Bentonit juga dapat digunakan sebagai pemucat minyak goreng bekas (jelantah). Minyak goreng yang telah dipanaskan berulang-ulang sudah mengalami kerusakan baik sifat fisik ataupun kimianya.

"Parameter kerusakan sifat fisik dan kimia minyak goreng dapat dilihat dari derajat warna, kekentalan (viskositas), bilangan iod, bilangan peroksida, bilangan asam dan kadar air pada minyak tersebut," kata Hester.

Hester mengatakan, untuk mengantipasi pemakaian minyak berulang-ulang oleh pedagang kaki lima, Dinkes Kota Pangkalpinang dalam sekali sebulan melakukan pemantauan dan penyuluhan mengenai kebersihan bahan baku dan pemakaian minyak goreng.

"Meski agak sulit memantau pemakaian minyak goreng di tingkat pedagang kaki lima termasuk kebersihan makanan yang dijual karena mereka sering berpindah tempat berjualan, namun pihak dinkes tetap berusaha dan terus memantau demi kesehatan masyarakat banyak," ujarnya.

Hester berharap, masyarakat lebih jeli dan teliti membeli gorengan di pingiran jalan. Perhatikan minyak goreng yang dipakai, apabila minyak goreng itu sudah hitam dan menimbulkan bau menyengat, masyarakat tidak membeli makanan tersebut.

"Makanan gorengan yang mengunakan minyak goreng yang tidak sehat akan menyebabkan berbagai penyakit kanker yang sangat membahayakan. Ya lebih baik mencegah dari pada mengobati penyakit tersebut," imbuh Hester. (Ant)

http://kesehatan.liputan6.com/info/201010/299450/Minyak.Goreng.Bekas.Picu.Kanker

Jumat, 27 Agustus 2010

Selada Air, Sayuran Super Pembasmi Kanker

Senin, 23/08/2010 09:03 WIB

Selada Air, Sayuran Super Pembasmi Kanker

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth


img
(Foto: thinkstock)
Southampton, Inggris,Beberapa jenis makanan sehari-hari menyimpan khasiat untuk mengobati penyakit sehingga dijuluki makanan super atau superfood. Penemuan terbaru, selada air (watercress) ternyata juga ampuh menghambat pertumbuhan sel kanker.

Selada air merupakan jenis tanaman yang tumbuh mengapung di air, tersebar di seluruh daratan Eropa dan Asia. Sering dikonsumsi sebagai sayur tumis dan rasanya agak mirip dengan kangkung atau bayam.

Selain kaya akan serat, baru-baru ini tim peneliti dari Southampton University mengungkap bahwa sayuran ini mengandung senyawa antikanker. Dalam pengujian terhadap sejumlah relawan, senyawa itu terbukti ampuh menghambat pertumbuhan kanker payudara.

Dikutip dari Telegraph, Senin (23/8/2010), uji coba itu dilakukan terhadap 4 partisipan wanita. Dalam sampel darah partisipan yang diamati selama 6 jam setelah mengkonsumsi selada air, tampak penurunan aktivitas senyawa yang membantu pertimbuhan kanker yakni protein 4E.

Penurunan tersebut diduga merupakan efek dari isothiocyanate, salah satu senyawa yang terkandung di dalam selada air. Akan tetapi mekanisme isothiocyanate dalam menghambat pembentukan protein 4E maupun pertumbuhan kanker itu sendiri masih belum diketahui pasti.

Dalam kesimpulan sementara yang dipublikasikan dalam British Journal of Nutrition, peneliti juga mengungkap bahwa selada air juga tidak hanya menghambat pertumbuhan kanker. Bagi yang sudah pernah sembuh dari kanker, mengkonsumsi 80 gram atau 1 porsi sayuran ini setiap hari diklaim dapat mencegah kekambuhan.

Akan tetapi seorang peneliti dari Cancer Research di Inggris, Hazel Nunn berpendapat bahwa terlalu dini untuk menyimpulkan hal itu. Menurutnya, temuan itu masih harus dikembangkan dengan mengujikan khasiat sayuran tersebut pada kelompok yang lebih luas.
(up/ir)

Sabtu, 24 April 2010

Demi Payudara Sehat, Jangan Pakai Bra 24 Jam

Jumat, 23/04/2010 15:11 WIB

Demi Payudara Sehat, Jangan Pakai Bra 24 Jam

Merry Wahyuningsih - detikHealth


img
Ilustrasi (Foto: msnbc)
Jakarta, Beberapa wanita percaya menyangga payudara secara terus menerus bisa menghindari payudara turun. Namun kebiasaan itu ternyata bisa memicu peningkatan suhu tubuh sekitar payudara yang lama-lama berisiko terkena kanker.

Dua ilmuwan Sydney Singer dan istrinya Soma Grismaijer pada tahun 1991 melakukan penelitian mengenai berapa lama waktu yang ideal untuk memakai penutup dada wanita atau bra?

Jawabannya ternyata kurang dari 12 jam. Wanita yang ingin menghindari kanker payudara harus memakai bra dalam waktu sesingkat mungkin, dan sebaiknya kurang dari 12 jam per hari.

Singer dan Grismaijer mempelajari kebiasaan memakai bra 4.500 wanita di lima kota di seluruh Amerika Serikat. Hasil studinya telah dipublikasikan dalam sebuah buku Dressed To Kill: The Link Between Breast Cancer and Bras.

Hasil studi menunjukkan wanita yang memakai bra selama 24 jam sehari berisiko paling tinggi terkena kanker payudara. Sedangkan wanita yang jarang memakai bra paling sedikit risikonya.

Perbandingan hasil studi tersebut menunjukkan:
  1. 3 dari 4 wanita yang memakai bra 24 jam per hari
  2. 1 dari 7 wanita yang memakai bra lebih dari 12 jam per hari, tetapi tidak menggunakannya saat tidur
  3. 1 dari 152 wanita yang memakai bra kurang dari 12 jam per hari
  4. 1 dari 168 wanita yang jarang atau bahkan yang tidak pernah memakai bra sama sekali

Jadi risiko wanita yang memakai bra selama 24 jam memiliki 125 kali lipat risiko terkena kanker payudara dibanding yang jarang memakai bra.

Waktu yang paling tepat untuk mengistirahatkan payudara dengan tanpa memakai bra adalah saat tidur. "Jangan tidur dengan bra," kata Sydney Singer, seperti dilansir dari chetday, Jumat (23/4/2010).

Memijat payudara disertai menarik napas panjang setiap kali melepas bra dapat memperlancar aliran getah bening dan mencegah berkembangnya kanker pada payudara.

Sistem limfatik pada payudara hanya berkembang sepenuhnya selama kehamilan dan menyusui, sehingga wanita yang memakai bra sehari-hari, menunda memiliki anak dan yang tidak menyusui dapat terkena risiko kanker payudara lebih tinggi.

Sekitar 75 persen wanita yang terkena kanker payudara sebenarnya tidak memiliki faktor risiko kanker. Hal ini memunculkan dugaan bahwa penggunaan bra yang tidak pas atau terus-terusan memakai bra merupakan faktor yang dapat menjelaskan hal tersebut.

Ukuran bra yang tidak tepat atau terlalu ketat dapat membantu pertumbuhan kanker di payudara. Karena bra yang salah dapat menghambat penetralan bahan kimia berbahaya dalam tubuh yang menyebabkan kanker. Dan sekitar 80 persen wanita menggunakan bra yang salah.

Alasan utama mengapa bra yang ketat dapat membahayakan kesehatan adalah karena bisa membatasi aliran getah bening di payudara. Normalnya, cairan getah bening mencuci bahan limbah dan racun lain, serta menjauhkannya dari payudara.

Menggunakan bra terlalu lama juga meningkatkan suhu jaringan payudara, dan wanita yang memakai bra memiliki kadar hormon prolaktin (hormon yang berfungsi merangsang kelenjar air susu) yang lebih tinggi. Kedua hal ini dapat mempengaruhi pembentukan kanker payudara.
(mer/ir)

Minggu, 18 April 2010

Diet Berisiko Sakit Jantung dan Kanker

Diet Berisiko Sakit Jantung dan Kanker
Ini karena diet menghasilkan tingkat hormon stres kortisol lebih tinggi.
MINGGU, 18 APRIL 2010, 10:30 WIB
Amril Amarullah, Lutfi Dwi Puji Astuti
Diet (dok. Corbis)

VIVAnews -- Banyak orang terutama wanita mendambakan tubuh ideal nan ramping. Mereka pun rela melakukan diet mati-matian demi mendapatkan bentuk tubuh yang diidam-idamkan.

Tapi perlu Anda ketahui, bahwa diet tanpa program yang benar sangat berbahaya bahkan bisa berisiko tinggi menyebabkan penyakit berbahaya. Hal ini bisa terjadi karena pola diet menghasilkan tingkat hormon stres kortisol lebih tinggi.

Berdasarkan suatu penelitian, melakukan diet tanpa program yang baik dapat meningkatkan risiko Anda mengalami kondisi yang mematikan seperti penyakit jantung, diabetes dan kanker.

Penelitian ini menemukan bahwa mereka yang mengontrol asupan kalori yang dihasilkan lebih tinggi dari hormon stres kortisol sangat berbahaya untuk kesehatan.

Para peneliti juga memperingatkan, memiliki tubuh apa adanya tanpa diet justru akan membuat orang merasa lebih baik, dan perlu diingat bahwa diet sesungguhnya dapat merusak kesehatan mental mereka.

Banyak penderita stres psikologis meningkat ketika mereka terus-menerus dipaksa untuk menghitung kalori dan memonitor apa yang mereka makan.

Dokter pun harus berpikir dua kali sebelum memberikan saran pada pasien mereka untuk diet ketat karena dampak kesehatan yang buruk bisa saja terjadi dalam jangka panjang ke depan.

"Terlepas dari keberhasilan atau kegagalan menurunkan berat badan, dalam jangka panjang menurut studi menunjukkan bahwa diet meningkatkan stres dan kortisol, dokter mungkin perlu memikirkan kembali merekomendasikan kepada pasien mereka untuk memperbaiki kesehatan," kata para peneliti seperti dikutip dari laman dailymail.co.uk.

• VIVAnews

Jumat, 02 April 2010

Buang Air Besar Tidak Normal Bisa Pertanda Kanker Usus Besar

Senin, 29/03/2010 15:50 WIB

Buang Air Besar Tidak Normal Bisa Pertanda Kanker Usus Besar

Merry Wahyuningsih - detikHealth


img
Ilustrasi (Foto: femalecare)
Jakarta, Kebanyakan orang tidak menyadari gejala-gejala awal kanker kolorektal (kanker usus besar). Padahal tanda-tanda itu bisa dilihat dari kebiasaan buang air besar yang tidak normal.

Diare atau sembelit biasanya hanya dianggap sebagai efek dari salah makan yang bila diobati dengan obat pencahar akan segera sembuh. Begitu juga feses atau kotoran yang berdarah sering diduga hanya ambein saja.

Kanker usus besar atau kolorektal adalah kanker yang tumbuh pada usus besar atau rektum. Kanker kolorektal merupakan jenis penyakit ganas yang paling dipengaruhi oleh lingkungan dan gaya hidup yang tidak sehat.

Dr dr Andhika Rachman, SpPD menjelaskan gejala-gejala kanker kolorektal pada stadium dini sering diabaikan. Sehingga bila si pasien sudah merasa sakit dan dibawa ke rumah sakit, kanker kolorektal sudah mencapai stadium lanjut yang sulit untuk disembuhkan.

"Kebanyakan orang tidak menyadari gejala-gejala awal kanker kolorektal," kata Dr dr Andhika Rachman, SpPD, dokter ahli kanker dalam acara seminar Penatalaksanaan Kanker Kolorektal di Indonesia, di RS Kanker Dharmais, Jakarta, Senin (29/3/2010).

Kanker kolorektal berawal dari pertumbuhan sel yang tidak ganas atau disebut adenoma, yang pada awalnya membentuk polip.

Polip dapat diangkat dengan mudah namun seringkali adenoma tidak menampakkan gejala apapun sehingga tidak terdeteksi dalam waktu yang relatif lama, dan pada kondisi tertentu berpotensi menjadi kanker yang dapat terjadi pada semua bagian dari usus besar.

Gejala-gejala kanker besar yang sering dianggap biasa antara lain:
  1. Perubahan kebiasaan buang air besar meliputi frekuensi dan konsistensi buang air besar (diare atau sembelit) tanpa sebab yang jelas
  2. Pendarahan pada usus besar, ditandai dengan ditemukannya darah pada feses saat buang air besar
  3. Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas
  4. Rasa sakit di perut atau bagian belakang
  5. Perut masih terasa penuh meskipun sudah buang air besar
  6. Anemia dan tampak pucat
  7. Kadang-kadang kanker dapat menjadi penghalang dalam usus besar yang tampak pada beberapa gejala seperti kesakitan, sembelit, sulit buang air besar dan rasa kembung di perut.

"Sebaiknya Anda melihat keadaan feses setiap kali buang air besar, karena hal ini dapat mendeteksi dini adanya gejala kanker kolorektal," kata dokter yang berpraktik di RS Cipto Mangunkusumo ini.

Menurutnya, kanker kolorektal masih besar kemungkinan sembuh bila masih berada di stadium awal. Stadium I kemungkinan sembuh 85-95 persen, stadium II 60-80 persen, stadium III 30-60 persen, dan hanya 5 persen saja kemungkinan sembuh untuk penderita stadium IV.

Pilihan pengobatan yang biasa dilakukan tergantung pada stadium, posisi dan ukuran tumor serta penyebarannya, yaitu:

1. Pembedahan atau operasi

Tindakan ini paling umum dilakukan untuk jenis kanker yang terlokalisir dan dapat diobati. Biasanya dilakukan pada pasien stadium awal.

2. Radioterapi atau radiasi

Tergantung pada letak dan ukuran tumor, radioterapi hanya digunakan untuk tumor pada rektum, sehingga mempermudah pengambilannya saat operasi. Radioterapi juga bisa diberikan setelah pembedahan untuk membersihkan sel kanker yang mungkin masih tersisa.

3. Kemoterapi
Salah satu pilihan kemoterapi yang banyak digunakan adalah Capecitabine, kemoterapi berbentuk tablet yang pertama di dunia. Capecitabine adalah tablet yang bekerja menyerang sel kanker saja tanpa menimbulkan ketidaknyamanan dan bahaya seperti pada kemoterapi infus konvensional.

4. Terapi Fokus Sasaran (Targeted Therapy)
Salah satu jenis terapi fokus sasaran adalah antibodi monoklomal. antibodi monoklomal dapat bekerja dengan merangsang sistem kekebalan tubuh alamiah untuk secara khusus menyerang sel kanker. Terapi ini dapat digunakan secara tunggal atau kombinasi dengan kemoterapi. Salah satu terapi antibodi monoklomal adalah Bevacizumab, yang bekerja dengan cara menghambat pasokan darah ke tumor sehingga menghambat pertumbuhan tumor, memperkecil ukuran tumor dan mematikannya.

Namun, sebelum usus besar terserang kanker, sebaiknya dilakukan pencegahan sedini mungkin. Pencegahan yang dilakukan antara lain:
  1. Dengan pola makan yang baik, yaitu mengonsumsi makanan tingi serat dan tinggi protein, mengurangi konsumsi daging merah dan lemak jenuh yang berasal dari hewani, makanan berpengawet, penyedap (MSG), alkohol dan rokok. Perbanyak makan sayur dan buah, kecuali nangka, durian, nanas, acar (asam) karena makanan tersebut tidak baik untuk pencernaan.
  2. Melakukan aktifitas fisik secara rutin dan olahraga
  3. Menggunakan obat-obat chemoprevention seperti Aspirin dan golongan obat-obat anti-inflamasi nonsteroid
(mer/ir)

Sabtu, 27 Maret 2010

Melibas Kanker dengan Ekstrak Daun Pepaya

Kamis, 11/03/2010 10:35 WIB

Melibas Kanker dengan Ekstrak Daun Pepaya

Vera Farah Bararah - detikHealth


img
Ilustrasi (Foto: tradewindsfruit)
Florida, Berbagai pengobatan alami diklaim bisa melawan sel-sel kanker. Peneliti menemukan ekstrak daun pepaya bisa efektif melawan berbagai tumor dan menjadi pengobatan tradisional.

Peneliti Nam Dang dari University of Florida dan rekannya dari Jepang mendokumentasikan efek anti kanker dari pepaya terhadap tumor leher rahim, payudara, hati dan pankreas. Laporan penelitian ini juga telah dipublikasikan dalam Journal of Ethnopharmacology.

Para peneliti menggunakan ekstrak yang dibuat dari daun pepaya kering dan ternyata efek yang dihasilkan bisa lebih kuat. Dang dan ilmuwan lainnya menunjukkan bahwa ekstrak daun pepaya bisa meningkatkan produksi molekul sinyal kunci yang disebut sitokin tipe Th1, molekul ini membantu mengatur sistem kekebalan tubuh.

"Hal ini bisa menjadi terapi perawatan untuk melawan sel-sel kanker dengan meningkatkan sistem kekebalan tubuh," ujar peneliti dalam jurnal yang dirilis bulan Februari lalu, seperti dikutip dari AFP, Rabu (10/3/2010).

Para ilmuwan menuturkan bahwa ekstrak daun pepaya tidak memiliki efek toksik terhadap sel normal, hal ini tentu saja dapat menghindari efek samping yang umumnya selalu timbul pada beberapa pengobatan kanker.

Peneliti menggunakan 10 tipe sel kanker yang berbeda dengan variasi 4 ekstrak daun pepaya dan mengukur efeknya setelah diberikan ekstrak daun pepaya selama 24 jam. Hasil yang ditemukan menunjukkan ekstrak daun pepaya ini bisa memperlambat pertumbuhan sel kanker pada semua medium yang berbeda.

Hasil penelitian masih membutuhkan waktu yang panjang dan tentunya akan lebih dikembangkan hingga bisa dilakukan uji klinis terhadap hewan percobaan yang nantinya dapat diujicobakan pada manusia. Jika penelitian ini berhasil, maka akan tercipta suatu pengobatan baru untuk melawan sel kanker dengan menggunakan bahan tradisional.

(ver/ir)