Tampilkan postingan dengan label Jantung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jantung. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Maret 2011

Penderita Ginjal Banyak Meninggal Karena Jantung

Senin, 21/03/2011 14:56 WIB

Penderita Ginjal Banyak Meninggal Karena Jantung

Merry Wahyuningsih - detikHealth



img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Sebelum sampai pada tahap dialisis atau cuci darah, pasien yang mengalamipenyakit ginjal kronik ternyata lebih banyak meninggal karena penyakit jantung, bukan karena ginjalnya.

Penyakit ginjal kronik saat ini mendapat lebih banyak perhatian karena sudah menjadi masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia.

Penyakit ginjal kronik (PGK) adalah suatu keadaan dimana ginjal mengalami kelainan struktur atau gangguan fungsi yang sudah berlangsung lebih dari tiga bulan.

Selain itu, seseorang dikatakan PGK bila fungsi ginjalnya yang diukur dengan estimasi laju filtrasi glomerular (eLFG) kurang dari 60 mL/menit.

"Ginjal sebenarnya tidak menyebabkan kematian, yang membuat orang meninggal karena jantungnya berhenti, kalau ginjalnya mati kan bisa didialisis. Oleh karena itu, lebih banyak orang PGK yang meninggal karena penyakit jantung sebelum mencapai gangguan ginjal tahap terminal (stadium akhir)," jelas Prof. Dr. dr. Suhardjono, SpPD-KGH, KGer, Ketua Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri) dalam acara Temu Media 'Pentingnya Kontrol Tekanan Darah pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik' di Bebek Bengil Resto, Jakarta, Senin (21/3/2011).

Menurut Prof Jhon, pasien PGK tahap awal mempunyai risiko 5 sampai 10 kali lipat meninggal karena kejadian jantung dibandingkan pasien gangguan jantung terminal yang harus menjalani dialisis (cuci darah).

Pasien PGK juga memiliki risiko penyakit jantung 20 kali lipat dibandingkan dengan orang normal.

Mengapa demikian?

dr. Dharmeizar, SpPD-KGH dari Divisi Ginjal-Hipertensi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam RSCM menjelaskan, ketika seseorang mengalami kelainan ginjal maka akan terjadi kelainan-kelainan yang bisa menyebabkan kerusakan di jantung, seperti anemia (kekurangan darah), toksin uremik, hiperkalemia (kadar kalium darah tinggi), malnutrisi, peradangan kronik, yang akhirnya menyebabkan gangguan metabolisme kalsium dan folat sehingga lama-lama menyebabkan kerusakan di jantung.

"Oleh karena itu, lebih banyak orang PGK yang meninggal karena penyakit jantung bukan karena ginjalnya," lanjur dr. Dharmeizar.

dr. Dharmeizar menjelaskan, banyak orang yang tidak menyadari dirinya menderita PGK karena memang PGK biasanya tidak menunjukkan gejala-gejala umum.

"Kebanyakan pasien sudah datang pada stadium lanjut dan menunjukkan gejala seperti muntah-muntah, sesak napas karena kelebihan cairan di paru-paru, mual, pucat, bengkak-bengkak," jelas dr. Dharmeizar.

Padahal sebenarnya, lanjut dr. Dharmeizar, PGk dapat dicegah dan diperlambat.

Bagaimana mencegah PGK?

"PGK umumnya tidak bergejala, jadi yang bisa dilakukan adalah cukup dengan tes urine sederhana yang harganya relatif murah," jelas dr. Dharmeizar.

PGK bisa dideteksi dengan tes urine sederhana untuk mengukur kadar protein dalam urine. Bila protein urine positif dan terjadi selama lebih dari 3 bulan maka orang tersebut bisa dikatakan mengalamipenyakit ginjal kronik.

Bila pada tes urine ditemukan kadar kreatin positif maka orang tersebut sudah mengalami PGK tingkat lanjut.

Selain itu perlu juga dilakukan pemeriksaan laboratorium berkala, yaitu

  1. Urin lengkap
  2. Ureum dan kreatinin
  3. Gula darah
  4. Kolesterol, LDL-kolesterol, trigliserid

Apa saja penyebab PGK?

Prof Jhon menjelaskan PGK paling banyak disebabkan karena beberapa hal berikut:

  1. Hipertensi
  2. Diabetes Mellitus
  3. Infeksi sistemik
  4. Infeksi saluran kemih
  5. Batu ginjal
  6. Toksin obat
  7. Radang glomerulus (glomerulonefritis) kronis

Bagaimana memperlambat PGK?

1. Mengatur diet dengan:
Cukup kalori (35 kal/kg/hari)
Kurangi protein (0.6 - 0.75 gr/kg/hari)
Asupan garam dikurangi
Jumlah air minum disesuaikan

2. Mengontrol tekanan darah
3. Mengontrol kadar gula darah
4. Mengontrol kolesterol darah
5. Meningkatkan Hb
6. Stop merokok
7. Mengobati infeksi saluran kemih
8. Operasi batu saluran kemih

(mer/ir)

Selasa, 21 Desember 2010

Viagra Bisa Lindungi Jantung

Viagra Bisa Lindungi Jantung
Sildenafil, unsur utama pada viagra dapat melindungi jantung dari tekanan darah tinggi.
MINGGU, 11 JANUARI 2009, 11:48 WIB
Muhammad Firman

Inboks akun email Anda dibanjiri pesan spam yang menawarkan viagra? Menyebalkan bukan? Tetapi kini ada kabar gembira muncul seputar salah satu obat yang banyak diminati oleh pria tersebut.

Menurut para peneliti, sildenafil tampaknya dapat mempengaruhi RGS2, protein penting yang bereaksi melindungi fungsi denyut darah jantung dari percepatan yang dapat mengakibatkan kegagalan jantung. Temuan yang dipublikasikan Senin, 5 Januari 2009 di The Journal of Clinical Investigation itu bisa berguna dalam proses perawatan atau pencegahan kegagalan jantung akibat tekanan darah tinggi kronis.

“Sildenafil terbukti memperpanjang efek proteksi RGS2 pada jantung tikus,” ucap Dr. David Kass, peneliti senior yang merupakan dokter spesialis kardiologi dan pengajar di Johns Hopkins University of Medicine serta Heart and Vascular Institute di Baltimore, Amerika Serikat. Setelah satu minggu menaikkan tekanan darah tikus, tim peneliti menemukan bahwa jantung yang dikondisikan kekurangan RGS2 atau Regulator of G-protein Signaling 2, bertambah bobotnya sebesar 90 persen. Nyaris separuh tikus eksperimen kemudian tewas akibat kegagalan jantung.

Pada tikus dengan RGS2, bahaya dari pembesaran otot atau yang dikenal dengan hypertrophy terjadi lebih lambat. Menurut penelitian, kenaikan volume jantung hanya 30 persen dan tidak ada tikus yang tewas. Pengujian lebih lanjut menunjukkan bahwa perawatan terhadap tikus hipertensi yang memiliki RGS2 dengan sildenafil menunjukkan ketahanan yang lebih baik, pertumbuhan yang lebih sehat, dan kontraksi serta relaksasi otot jantung yang lebih baik. Tikus-tikus ini juga memiliki aktivitas enzim yang berhubungan dengan stress, 10 kali lipat lebih rendah dibandingkan dengan tikus yang tidak diberikan perawatan.

Penelitian juga menemukan bahwa sildenafil tidak memiliki efek pada tikus yang kekurangan RGS2. Penelitianyang dilakukan lebih dari 6 kali eksperimen yang seluruhnya dilakukan dalam rentang tiga tahun terakhir dan didesain khusus untuk mengamati peranan RGS2 pada penurunan hypertrophy.

“Bukti menunjukkan bahwa Gq signaling yang tak terkendali mendorong reaksi berantai terhadap kegagalan jantung,” ucap Kass. “Dengan menambahkan efek proteksi dari RGS2 atau dengan melakukan pengujian terhadap keberadaannya, peneliti kini bisa mengembangkan terapi baru atau meningkatkan metode yang sudah ada,” ucapnya.

Menurut penelitian, saat ini, dokter menggunakan obat yang disebut ACE inhibitor dan ARB inhibitor untuk memblikir Gq signaling. Obat-obat ini merupakan perawatan umum terhadap kegagalan jantung yang terjadi pada lebih dari 5 juta warga Amerika dan membunuh lebih dari seperempatnya.

• VIVAnews

Kamis, 15 Juli 2010

Teh Hijau ,Teh Hitam, Jantung

Teh Hijau dan Hitam Baik untuk Jantung


Teh Hijau dan Hitam Baik untuk Jantung

JAKARTA, KOMPAS.com — Bicara mengenai manfaat dan khasiat daun teh, umumnya kita akan lebih terfokus pada teh hijau. Padahal, baik teh hijau maupun teh hitam sama-sama punya khasiat terhadap kesehatan. Hampir semua jenis teh ternyata berperan besar terhadap kesehatan peminumnya. Hal ini karena teh mengandung senyawa antioksidan seperti polifenol, flavonoid, L-theanin.

Seperti yang diuraikan oleh Peter CH Hollman, peneliti dari Waginingen University, Belanda, senyawa antioksidan dalam teh berguna sebagai zat antikanker, menekan hormon stres, dan meningkatkan fungsi pembuluh darah yang akan mencegah penyakit kardiovaskular, seperti serangan jantung dan stroke.

"Teh merupakan sumber flavonoid yang punya efek langsung terhadap kesehatan pembuluh darah," kata Hollman dalam jumpa pers acara Tea Science Symposium yang diadakan oleh Lipton Institute of Tea di Jakarta, Rabu (14/7/2010).

Dalam penelitian meta-analisis Hollman, terbukti bahwa mereka yang mengonsumsi teh tiga cangkir setiap hari memiliki pengurangan risiko terkena stroke hingga 20 persen. "Baik teh hitam maupun teh hijau punya efek perlindungan yang sama," paparnya. Dalam berbagai riset, pengujian sudah dilakukan terhadap hubungan teh dengan penyakit kardiovaskular, baik yang sifatnya jangka pendek maupun jangka panjang.

Menurut penjelasan Visvajit De Alwis, General Manager Tea Buying Division PT Unilever Indonesia, teh hitam adalah teh berwarna hitam kecoklat-coklatan, bercita rasa "kaya", yang dihasilkan lewat proses fermentasi. Adapun teh hijau adalah teh berwarna hijau yang dihasilkan melalui proses pengukusan cepat untuk menghambat terjadinya perubahan warna daun dan terjadinya fermentasi. Di Indonesia, jenis teh hitam lebih populer dibanding teh hijau.

http://id.news.yahoo.com/kmps/20100715/tls-teh-hijau-dan-hitam-baik-untuk-jantu-8d16233.html