Tampilkan postingan dengan label Radiasi Nuklir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Radiasi Nuklir. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Maret 2011

Retakan Fondasi Rumah Sama Bahayanya dengan Radiasi Nuklir

Minggu, 13/03/2011 08:04 WIB

Retakan Fondasi Rumah Sama Bahayanya dengan Radiasi Nuklir

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth



img
foto: Thinkstock
Jakarta, Ancaman radiasi tak hanya ditemukan di sekitar reaktor nuklir. Sumber senyawa radioaktif ada di mana-mana, termasuk retakan fondasi rumah yang bisa melepaskan gas radon dan menjadi pemicu kanker paru-paru terbanyak nomor 2 setelah rokok.

Radon merupakan unsur kimia yang bersifat radioaktif dengan lambang Rn, memiliki nomor atom 86 dan waktu paruh 3,8 hari. Unsur ini termasuk gas mulia karena tidak bereaksi dengan unsur lain dan keberadaannya tidak bisa dideteksi secara langsung oleh pancaindra.

Ancaman bahayanya memang tidak lebih tinggi dari asap rokok, namun US Environmental Protection Agency (EPA) mencatat 21.000 orang/tahun tewas akibat kanker paru yang dipicu oleh gas radon. Artinya, radon merupakan penyebab kanker paru terbanyak kedua setelah rokok sehingga tidak bisa diremehkan.

"Gas radon tidak berwarna, tidak berbau dan tidak memicu gejala secara langsung. Anda bisa saja menghirupnya dalam jumlah banyak tanpa pernah menyadari sebelumnya," ungkap Kristy Miller dari EPA, seperti dikutip dari Healthday, Minggu (13/5/2011).

Retakan fondasi rumah merupakan salah satu sumber gas radon yang perlu diwaspadai di sekitar tempat tinggal. Batu dan material lain yang berasal dari perut bumi mengandung unsur radium (Ra), yang akan terurai menjadi gas radon jika mengalami keretakan atau pecah.

Karena tidak terdeteksi oleh pancaindra, keberadaan gas ini hanya bisa diketahui dengan alat khusus. EPA menganjurkan pemeriksaan dilakukan secara rutin pada rumah-rumah tua atau yang mengalami kerusakan, misalnya mulai retak-retak di bagian dinding dan fondasinya.

Menurut Miller, gas radon pada kadar 4 picocurry/liter (pCi/L) masih bisa ditoleransi oleh manusia tanpa menyebabkan efek negatif. Namun jika sudah melebihi 4 pCi/L maka rumah harus segera direnovasi untuk menutup retakan bebatuan yang memungkinkan adanya pelepasan gas radon.


(up/ir)

Bahaya-bahaya Kesehatan Jika Terkena Radiasi Nuklir

Minggu, 13/03/2011 10:03 WIB

Bahaya-bahaya Kesehatan Jika Terkena Radiasi Nuklir

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth


img
foto: Thinkstock
Jakarta, Bencana di Jepang memicu kekhawatiran akan adanya kebocoran reaktor nuklir seperti yang terjadi di Chernobyl tahun 1986. Dampak radiasi bermacam-macam, ada yang bisa dirasakan seketika dan ada yang baru muncul dalam jangka panjang.

Kebocoran reaktor nuklir terburuk dalam sejarah terjadi di Chernobyl, Ukraina pada April 1986. Selain memicu evakuasi ribuan warga di sekitar lokasi kejadian, dampak kesehatan masih dirasakan para korban hingga bertahun-tahun kemudian misalnya kanker, gangguan kardiovaskular dan bahkan kematian.

Secara alami, tubuh manusia memiliki mekanisme untuk melindungi diri dari kerusakan sel akibat radiasi maupun pejanan zat kimia berbahaya lainnya. Namun seperti dikutip dariFoxnews, Minggu (13/3/2011), radiasi pada tingkatan tertentu tidak bisa ditoleransi oleh tubuh dengan mekanisme tersebut.

Editor kesehatan dari Foxnews Health, Dr Manny Alvarez mengatakan ada 3 faktor yang mempengaruhi dampak radiasi nuklir. Ketiganya meliputi total radiasi yang dipejankan, seberapa dekat dengan sumber radiasi dan yang terakhir adalah seberapa lama korban terpejan oleh radiasi.

Ketiga faktor tersebut akan menentukan dampak apa yang akan dirasakan para korban. Radiasi yang tinggi bisa langsung memicu dampak sesaat yang langsung bisa diketahui, sementara radiasi yang tidak disadari bisa memicu dampak jangka panjang yang biasanya malah lebih berbahaya.

Dampak sesaat atau jangka pendek akibat radiasi tinggi di sekitar reaktor nuklir antara lain sebagai berikut.
  1. Mual muntah
  2. Diare
  3. Sakit kepala
  4. Demam.

Sementara itu, dampak yang baru muncul setelah terpapar radiasi nuklir selama beberapa hari di antaranya adalah sebagai berikut.
  1. Pusing, mata berkunang-kunang
  2. Disorientasi atau bingung menentukan arah
  3. Lemah, letih dan tampak lesu
  4. Kerontokan rambut dan kebotakan
  5. Muntah darah atau berak darah
  6. Tekanan darah rendah
  7. Luka susah sembuh.

Dampak kronis alias jangka panjang dari radiasi nuklir umumnya justru dipicu oleh tingkat radiasi yang rendah sehingga tidak disadari dan tidak diantisipasi hingga bertahun-tahun. Beberapa dampak mematikan akibat paparan radiasi nuklir jangka panjang antara lain sebagai berikut.
  1. Kanker
  2. Penuaan dini
  3. Gangguan sistem saraf dan reproduksi
  4. Mutasi genetik.

(up/ir)

Jumat, 26 November 2010

Bunga Matahari Bisa Menangkal Radiasi Nuklir

Kamis, 25/11/2010 17:14 WIB

Bunga Matahari Bisa Menangkal Radiasi Nuklir

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

img
foto: Thinkstock
Jakarta, Manfaat bunga matahari (Helianthus annuus L.) tidak hanya ditemukan pada bijinya yang bisa dibuat kwaci. Seluruh bagian dari tanaman hias berwarna kuning terang ini bisa jadi bahan obat, bahkan bisa menetralisir efek radiasi dari limbah nuklir.

Manfaat ini dibuktikan dalam tragedi kebocoran reaktor nuklir di Chernobyl tahun 1986. Ketika sebagian besar air di wilayah itu tercemar radioaktif, penanaman bunga matahari di atas rakit mengambang mampu mengurangi dampak radiasi di perairan hingga 95 persen.

Rahasianya adalah struktur akar yang begitu lebat dan kuat sehingga mampu mengekstrak logam-logam berat seperti arsen dan timah. Bahkan unsur radioaktif juga bisa diserap, termasuk uranium dan stronium-90 yang bisa menyebabkan mutasi genetik pada manusia.

Dikutip dari Healthmad, Kamis (25/11/2010), bagian lain dari tanaman bunga matahari yang juga bermanfaat adalah daunnya. Bagian ini mampu meredakan asma dan batuk rejan karena bronkitis, bahkan bisa menyembuhkan luka dan infeksi.

Untuk meredakan batuk dan asma, daun bunga matahari dikeringkan bersama helaian mahkota bunga majemuknya. Daun dan bunga yang sudah kering diseduh air panas, lalu diminum hangat-hangat seperti teh setiap hari hingga gejala mereda.

Sedangkan untuk mengobati luka dan infeksi, daun yang masih segar dilumatkan bersama biji bunga matahari hingga membentuk tapel atau pasta. Tapel itu kemudian digunakan untuk mengompres luka atau borok hingga luka dan pasta sama-sama mengering.

Bagian yang paling banyak dimanfaatkan adalah minyak bunga matahari, yang diyakini bisa mengatasi berbagai penyakit kronis termasuk penyakit jantung dan gangguan saraf. Saking populernya, minyak ini banyak dijual dalam bentuk suplemen siap minum.

Selain mengandung minyak tak jenuh rantai tunggal yang baik untuk jantung, minyak ini juga mengandung vitamin E yang berfungsi sebagai penangkal radikal bebas. Kandungan ini berguna untuk perawatan kulit karena bisa melawan efek penuaan seperti keriput dan kulit kusam.

(up/ir)