Tampilkan postingan dengan label Perempuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perempuan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Mei 2011

Ini yang Terjadi Bila Perempuan Tidur Pakai Bra

Sabtu, 28/05/2011 16:04 WIB

Ini yang Terjadi Bila Perempuan Tidur Pakai Bra

Merry Wahyuningsih - detikHealth


img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Tidur adalah waktu yang tepat untuk mengistirahatkan payudara dengan tidak mengenakan bra. Lantas apa jadinya bila perempuan tidur dengan mengenakan bra?

Tak hanya mengistirahatkan otot, saat tidur tubuh mengalami perbaikan dan detoksifikasi (mengeluarkan racun). Tidur juga memberi kesempatan bagi sistem kekebalan tubuh untuk memproduksi hormon-hormon imunitas (kekebalan tubuh).

Oleh karena itu, sebaiknya gunakan pakaian yang longgar atau lepaskan pakaian dalam saat tidur, sehingga dapat mempercepat dan memperlancar kinerja tubuh dalam proses perbaikan. Untuk perempuan sebaiknya lepaskan bra saat tidur.

Berikut beberapa hal yang terjadi jika perempuan tidur mengenakan bra, seperti dilansir Livestrong, Sabtu (28/5/2011):

1. Berkeringat
Ada beberapa bra khusus yang dirancang khusus untuk tidur, biasanya terbuat dari bahan nilon atau katun yang dapat membuat kulit Anda 'bernapas'. Namun jika Anda mengenakan bra biasa untuk tidur, maka keringat dan uap air akan tetap berada di dalam bra. Hal ini bisa menyebabkan gatal-gatal dan dalam kasus ekstrem bisa menyebabkan luka.

2. Gelisah saat tidur
Bra biasa (yang dikenakan siang hari) dirancang khusus untuk menopang payudara dan memberikan bentuk yang indah. Bra seperti ini biasanya ketat dan kencang sehingga tidak nyaman bila dikenakan saat berbaring atau tidur. Perempuan yang tetap mengenakan bra yang kencang saat tidur bisa mengalami kegelihan dan tidur tidak nyenyak.

3. Insomnia
Dalam kasus yang ekstrem, memakai bra saat tidur juga bisa menjadi salah satu faktor insomnia karena tubuh tidak bebas bernapas.

4. Berisiko kanker payudara
Ilmuwan Sydney Singer dan istrinya Soma Grismaijer pada tahun 1991 pernah menulis dalam bukunya 'Dressed To Kill: The Link Between Breast Cancer and Bras', yang berisi tentang perempuan yang ingin menghindari kanker payudara harus memakai bra dalam waktu sesingkat mungkin dan sebaiknyakurang dari 12 jam per hari.

"Waktu yang paling tepat untuk mengistirahatkan payudara dengan tanpa memakai bra adalah saat tidur. Jangan tidur dengan bra," kata Sydney Singer, seperti dilansir dari Chetday.

Menurut Sydney Singer, menggunakan bra terlalu lama dapat meningkatkan suhu jaringan payudara dan perempuan yang memakai bra memiliki kadar hormon prolaktin (hormon yang berfungsi merangsang kelenjar air susu) yang lebih tinggi. Kedua hal ini dapat mempengaruhi pembentukan kanker payudara.

Selain itu, terlalu sering menggunakan bra atau menggunakan bra terlalu ketat juga membahayakan kesehatan karena bisa membatasi aliran getah bening di payudara. Normalnya, cairan getah bening mencuci bahan limbah dan racun lain, serta menjauhkannya dari payudara.

(mer/ir)

Selasa, 20 Juli 2010

Perempuan Paling Menarik Umur 31 Tahun, Paling Stres 27 Tahun

Selasa, 20/07/2010 15:05 WIB

Perempuan Paling Menarik Umur 31 Tahun, Paling Stres 27 Tahun

Vera Farah Bararah - detikHealth


img
(Foto: diolah)
Jakarta, Seorang perempuan memiliki masa atau periode tersendiri di dalam hidupnya. Tapi sebuah survei mengumumkan bahwa seorang perempuan akan terlihat paling menarik saat mencapai usia 31 tahun dan paling stres saat 27 tahun.

Beberapa orang menganggap bahwa usia hanyalah sebuah angka, tapi bagi beberapa perempuan angka tersebut bisa mendefinisikan sesuatu dan terpengaruh dari apa yang dilakukannya serta dengan siapa perempuan tersebut menghabiskan waktunya.

Hasil survei yang menunjukkan bahwa seorang perempuan akan terlihat paling menarik ketika berusia 31 tahun bisa menjadi berita yang bagus bagi perempuan yang lahir pada tahun 1979 dan 1980.

Seperti dikutip dari Telegraph, Selasa (20/7/2010) ada beberapa periode yang dialami oleh kaum perempuan berdasarkan usianya, yaitu:
1. Usia 17 tahun adalah usia yang paling pemberontak.
Pada saat usia tersebut biasanya seseorang akan menolak sesuatu jika tidak sesuai dengan keinginannya.

2. Usia 27 tahun adalah usia yang paling lemah.
Pada usia tersebut seseorang akan berjuang untuk mencapai karir yang diinginkannya, berusaha untuk mendapatkan pasangan hidup dan juga menjadi perempuan yang mandiri.

3. Usia 37 tahun adalah usia putus asa.
Pada titik ini adalah saat seseorang merasa putus asa, misalnya tingkat kesuburan yang semakin menurun membuat ia menjadi terpuruk ketika semakin banyak orang yang menanyakan tentang keturunan.

4. Usia 42 tahun adalah saatnya tampil dengan pakaian terbaik.
Pada umumnya di usia 40-an tahun adalah dekade yang tepat, karena tidak terlalu tua dan juga tidak terlalu muda. Ia akan merasa memiliki tingkat kepercayaan diri yang paling tepat.

5. Usia 50 tahun adalah masa-masa krisis.
Beberapa orang mengalami masa yang sulit saat mencapai usia ini, misalnya perceraian sehingga mengharuskannya untuk bisa melewati masa krisis ini.

6. Usia 72 tahun adalah saatnya bersantai.
Pada usia ini seseorang hanya perlu bersantai dan menikmati hidup sambil sesekali berkebun, sehingga tidak perlu lagi memikirkan pekerjaan yang rumit.

7. Usia 86 tahun adalah usia untuk menikmati seks sekedarnya.
Pada usia ini berbaring adalah hal yang baik, dan seseorang tidak peduli walaupun seks tersebut hanya berlangsung 30 detik saja.

(ver/ir)

Rabu, 07 Juli 2010

Bisakah Perempuan Mengalami Mimpi Basah?

Selasa, 06/07/2010 18:30 WIB

Bisakah Perempuan Mengalami Mimpi Basah?

Merry Wahyuningsih - detikHealth


img
Ilustrasi (Foto: time)
Jakarta, Mimpi basah selama ini selalu identik dengan laki-laki yang sudah mengalami pubertas. Tapi mungkin banyak orang yang bertanya, bisakah perempuan mengalami mimpi basah?

Mimpi basah (orgasme spontan)
atau dalam dunia kedokteran dikenal dengan emisi nokturnal, merupakan pengeluaran cairan semen di waktu tidur yang biasanya terjadi ketika seorang anak laki-laki sudah memasuki masa pubertas.

Tapi ternyata emisi nokturnal atau mimpi basah juga bisa terjadi pada perempuan. Tidak seperti ejakulasi pada laki-laki, emisi nokturnal pada perempuan terjadi karena adanya lubrikasi (pelumasan) pada vagina.

Pada laki-laki, emisi noktural biasanya terjadi karena adanya tekanan atau stimulasi pada alat kelamin oleh kasur atau seprai, mimpi erotis, kandung kemih penuh atau kenangan dari aktivitas atau pikiran seksual.

Tapi seperti dilansir dari WomenHealthZone, Selasa (6/7/2010), pada perempuan lebih karena adanya kenangan dari aktivitas atau pikiran seksual yang tejadi sebelum ia beranjak ke tempat tidur, yang akhirnya akan menyebabkan terjadinya mimpi erotis.

Mimpi basah terjadi ketika seseorang mengalami tahap tidur REM (gerakan mata cepat atau rapid eye movement), yaitu tahap tidur yang dalam dan terjadi mimpi, laju respirasi dan aktivitas otak meningkat, serta otot-otot menjadi lebih rileks, yang ditandai dengan gerakan bola mata yaang cepat.

Perempuan juga bisa mengalami mimpi erotis dalam tidurnya. Tapi hanya sedikit perempuan yang dapat mengingat kejadian tersebut, bahkan ada yang lupa sama sekali. Hal inilah yang membuat orang menganggap bahwa perempuan tidak bisa mengalami emisi noktural alias mimpi basah.

Tapi mimpi basah pada perempuan adalah normal. Ini tidak berarti bahwa perempuan tersebut mengalamifrigiditas (hilangnya minat dan respons seksual) ataupun nymphomania (gairah seksual berlebihan).

Penelitian telah menunjukkan bahwa 40 persen perempuan mengalami mimpi basah sebelum berusia 45 tahun. Tapi mimpi basah pada perempuan tidak terjadi sesering pada laki-laki, perempuan biasanya hanya mengalaminya beberapa kali dalam setahun.
(mer/ir)

Jumat, 02 April 2010

Gejala Serangan Jantung Pada Perempuan

Jumat, 02/04/2010 12:30 WIB

Gejala Serangan Jantung Pada Perempuan

Vera Farah Bararah - detikHealth


img
Ilustrasi (Foto: howstuffworks)
Jakarta, Serangan jantung masih dianggap penyakit kaum laki-laki, padahal perempuan juga bisa terkena. Tapi banyak perempuan yang tidak menyadari sehingga jarang terdeteksi. Kenali gejala serangan jantung pada perempuan.

Penelitian yang dilakukan oleh National Institutes of Health (NIH) menunjukkan bahwa perempuan sering mengalami gejala satu bulan atau lebih sebelum akhirnya mendapatkan serangan jantung.

Diantara 515 perempuan yang diteliti, sebanyak 95 persen mengatakan bahwa mereka baru mengetahui gejala yang berbeda setelah satu bulan sebelum terkena serangan jantung atau Acute Myocardial Infarction (AMI).

"Sayangnya banyak perempuan yang tidak tahu bahwa gejala yang dialaminya adalah tanda serangan jantung, karena gejala yang timbul bisa secara signifikan berbeda dengan kaum laki-laki," ujar C Noel Bairey Merz, M.D ketua American College of Cardiology's Prevention and Cardiovascular Diseases Committee, seperti dikutip dari Medicinenet,Jumat (2/4/2010).

Berdasarkan penelitian didapatkan sekitar kurang dari 30 persen perempuan mengalami nyeri dada atau rasa ketidaknyamanan sebelum serangan jantung, dan sebanyak 43 persen tidak mengalami nyeri dada selama fase serangan jantung. Namun kebanyakan dokter tetap mempertimbangkan nyeri dada sebagai gejala serangan jantung yang penting bagi laki-laki dan perempuan.

"Semakin jelas bahwa gejala yang dialami oleh perempuan tidak bisa ditebak seperti laki-laki. Hal ini menunjukkan harus adanya kesadaran baik dari pihak perempuan maupun dokternya mengenai gejala yang dapat mengarah ke serangan jantung," ujar Patricia A Grady, PhD, RN, direktur dari NINR (National Institute of Nursing Research).

Patricia menambahkan hal ini penting agar tidak melewatkan kesempatan sedini mungkin untuk mencegah atau mengurangi AMI, karena hingga kini AMI masih menjadi penyebab pertama kematian pada laki-laki maupun perempuan.

Sebelum serangan jantung, ada beberapa gejala yang biasanya dialami oleh perempuan yaitu:

  1. Kelelahan yang tidak biasa (dialami sekitar 70 persen perempuan)
  2. Gangguan tidur (dialami sekitar 48 persen)
  3. Sesak napas (dialami sekitar 42 persen)
  4. Gangguan pencernaan (dialami sekitar 39 persen)
  5. Rasa ketakutan (dialami sekitar 35 persen).

Saat serangan jantung terjadi ada beberapa gejala yang biasa menyertai yaitu:

  1. Sesak napas (dialami sekitar 58 persen)
  2. Lemah (dialami sekitar 55 persen)
  3. Kelelahan yang tidak biasa (dialami sekitar 43 persen)
  4. Keringat dingin (dialami sekitar 39 persen)
  5. Pusing (dialami sekitar 39 persen).

Perempuan yang mengalami kematian akibat serangan jantung karena tidak menyadari gejala yagng timbul. Untuk itu kenali gejala serangan jantung yang terjadi pada perempuan karena penyakit ini bisa menyerang siapa saja tanpa melihat jenis kelaminnya.

(ver/ir)