Tampilkan postingan dengan label Garam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Garam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Juli 2010

Bayi 6-12 Bulan Jangan Diberi Garam, Gula dan Buah Manis

Rabu, 07/07/2010 14:30 WIB

Bayi 6-12 Bulan Jangan Diberi Garam, Gula dan Buah Manis

Vera Farah Bararah - detikHealth


img
(Foto: babychums)
Jakarta, Setelah si kecil berusia 6 bulan, maka asupan nutrisinya tidak hanya dari ASI tapi juga ditambah dengan makanan pendamping ASI (MPASI). Tapi sebaikya ibu tidak memberikan gula, garam dan buah yang terlalu manis pada bayi usia 6 bulan sampai 1 tahun.

Makanan yang sehatpenting untuk pertumbuhan fisik dan kecerdasan anak, karena itu asupan makanan ini harus sesuai dalam hal kualitas dan kuantitasnya.

Untuk memenuhi nutrisi anak, maka sebaiknya ibu menggunakan bahan yang segar sehingga anak mendapatkan vitamin dan mineral yang optimal. Jangan anggap enteng bayi usia 6-12 bulan karena itu adalah masa kritis yang menentukan kebiasaan makan seterusnya hingga dewasa.

"Usia 6-12 tahun adalah masa kritis dalam menentukan pola makan anak nantinya. Karena itu sebaiknya orangtua memberikan makan pada anaknya secara bervariasi, tanpa paksaan, tidak terlalu manis dan jangan ditambahkan garam," ujar Dr. Fiastuti Witjaksono, MSc, MS, SpGK dalam acara 'Temu Media Philips Avent' dengan tema berbagai tips menjadi orangtua sukses dalam kesibukan sehari-hari di Hotel Gran Melia, Jakarta, Rabu (7/7/2010).

Dr Fiastuti menambahkan tidak ada satu makanan pun yang sempurna, dalam arti mencukupi semua kebutuhan nutrisi anak. Sehingga jika anak ingin mendapatkan asupan nutrisi yang tepat, makanan yang diberikan juga harus bervariasi.

Kenapa bayi jangan diberi garam, gula dan buah yang terlalu manis?

"Jika bayi sudah diberi garam dan gula dalam makanannya, maka bayi akan terbiasa mendapatkan rasa yang lebih enak dibandingkan dengan makanan murni lainnya. Efeknya, bayi tidak mau makan kalau makanan tersebut tidak manis atau gurih," ungkap dokter kelahiran Jogjakarta 56 tahun silam.

Maka itu bayi berusia di bawah 1 tahun, sebaiknya tidak diberikan buah yang terlalu manis, seperti sawo atau nangka karena rasa manisnya yang terlalu tinggi. Tapi berikan buah apel, pir, pepaya atau buah lain yang tidak terlalu manis.

Karena jika anak sudah biasa diberikan makanan manis, nantinya anak hanya mau makan makanan yang manis. Sehingga akan susah menyuruhnya mengonsumsi sayur karena sayuran cenderung memiliki rasa hambar.

"Ada yang bilang sebaiknya memberi sayuran dulu baru buah, tapi kalau menurut saya dikombinasikan antara buah dan sayur juga bisa," ujar dokter dari 3 orang anak ini.

Anak usia di bawah 1 tahun adalah masa untuk mengenal berbagai macam rasa dari buah, sayur dan makanan lainnya. Sehingga jika dari kecil anak sudah diberi makanan yang gurih dan manis, maka nantinya anak punya kebiasaan memilih-milih makanan yang dikonsumsinya, rasa manis dan gurihlah yang jadi pilihan.

"Kunci untuk menentukan pola makan anak adalah pada usia 6-12 bulan. Kalau sejak usia tersebut sudah diberi Nugget, makanan yang gurih dan kaya lemak, maka sudah pasti anak tersebut tidak akan suka dengan sayur dan buah," imbuhnya.

Selain garam dan gula, bayi di bawah usia 1 tahun juga sebaiknya tidak diberikan madu, karena berisiko mengandung bakteri Clostridium yang bisa menyebabkan botulisme. Makanan lain yang dihindari adalah kacang-kacangan dan juga susu sapi, hal ini karena bisa memicu timbulnya alergi.

Usahakan untuk menunggu hasilnya hingga 4 hari ketika memperkenalkan makanan baru pada bayi. Hal ini untuk memudahkan orangtua melihat apakah bayi memiliki reaksi alergi tertentu terhadap makanan tersebut atau tidak.

Selain untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi, makanan pendamping ASI ini juga memiliki tujuan merangsang keterampilan makan anak terutama keterampilan motorik oral serta merangsang rasa percaya diri anak karena tidak mungkin anak menyusu terus sampai besar.

Tapi sekali lagi berikan makanan yang bervariasi seperti buah-buahan yang tidak terlalu manis, sayuran, dan masakan yang tidak terlalu banyak garam.

(ver/ir)

Sabtu, 19 Juni 2010

Cegah Stroke Dengan Kurangi Konsumsi Garam 3 Gram/Hari

Kamis, 21/01/2010 09:20 WIB

Cegah Stroke Dengan Kurangi Konsumsi Garam 3 Gram/Hari

Nurul Ulfah - detikHealth


img
Ilustrasi (Foto: smh)
New York, Berapa jumlah garam yang dikonsumsi setiap hari? Peneliti menyarankan mulailah untuk mengurangi konsumsi garam sebesar 3 gram per hari untuk mencegah kematian akibat stroke dan penyakit jantung.

Sebuah studi yang dimuat dalam the New England Journal Medicine menyebutkan pengurangan jumlah garam itu sama bermanfaatnya dengan mengurangi 50 persen rokok dan 5 persen obesitas.

"Hanya dengan melakukan perubahan kecil ini bisa mengurangi jumlah penderita stroke dan serangan jantung," ujar Karen Congro dari Wellness for Life Program at Brooklyn Hospital Center, New York seperti dilansir Healthday, Kamis (21/1/2010).

Sebuah agen di Amerika melaporkan, orang Amerika saat ini terlalu banyak mengonsumsi garam. Laporan Medical Research Council (MRC) menyebutkan rata-rata orang dewasa di AS mengonsumsi garam 9,5 gram per hari. Sebanyak tiga perempat garam yang dikonsumsi itu berasal dari makanan olahan dan 10 persen lagi ditemukan dalam masakan di rumah.

Baru-baru ini peneliti dari University of California, San Fransisco membuktikan bahwa dengan mengurangi 3 gram atau setengah sendok teh garam bisa mengurangi jumlah kasus beberapa penyakit.

Penyakit jantung koroner dilaporkan menurun dari 120.000 menjadi 60.000, kasus stroke menurun dari 66.000 menjadi 32.000 dan serangan jantung dari 99.000 menjadi 54.000. Sementara itu jumlah kematian bisa dikurangi dari 92.000 menjadi 44.000. Semua itu karena penurunan konsumsi garam.

Masalah konsumsi garam kini menjadi perhatian departemen kesehatan New York, Amerika. Melalui program National Salt Reduction Initiative diharapkan konsumsi garam bisa dikurangi hingga 20 persen dalam 5 tahun ke depan.

Konsumsi garam dari tempat makan, restoran dan produk-produk industri makanan harus lebih diwaspadai karena jumlahnya tidak terkontrol.

Dr Susan Jebb, Kepala Gizi dan Penelitian Kesehatan MRC pernah mengatakan konsumsi garam yang direkomendasikan untuk orang dewasa sebesar 6 gram. Dengan konsumsi garam 6 gram per hari, bisa mengurangi risiko stroke 13 persen dan risiko penyakit jantung 10 persen.

Menurut Dr Jebb mengurangi asupan garam sama sekali tidak membahayakan tubuh. Meskipun idenya soal kebijakan publik untuk mengurangi garam mendapat tentangan keras karena khawatir penurunan konsumsi garam yang secara drastis akan berakibat fatal.

Garam atau natrium klorida adalah zat yang penting penting bagi kesehatan. Setiap sel dalam tubuh membutuhkan natrium untuk mengatur keseimbangan cairan serta mengatur saraf dan otot agar berfungsi dengan baik.

Terlalu sedikit garam dapat menyebabkan gangguan mental, ketidakmampuan berkonsentrasi dan dalam kasus yang ekstrim bisa berakibat fatal mengalami Hiponatremia.

Namun begitu pakar kesehatan sepakat untuk memberikan rekomendasi penggunaan garam berdasarkan usia:
  1. 0-6 bulan 1 gram
  2. 7-12 bulan 1 gram
  3. 1-3 tahun 2 gram
  4. 4-6 tahun 3 gram
  5. 7-10 tahun 5 gram
  6. 11-14 tahun 6 gram
  7. Dewasa 6 gram.
(ir/ir)

http://health.detik.com/read/2010/01/21/092019/1283027/766/cegah-stroke-dengan-kurangi-konsumsi-garam-3-gram-hari