Tampilkan postingan dengan label Debu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Debu. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 November 2010

Ramuan Herbal untuk Keluarkan Debu dari Paru-paru

Jumat, 05/11/2010 17:55 WIB

Ramuan Herbal untuk Keluarkan Debu dari Paru-paru

Merry Wahyuningsih - detikHealth




img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Letusan Gunung Merapi yang masih sering terjadi membuat daerah-daerah dekatnya harus merasakan hujan abu yang bisa membahayakan saluran pernapasan. Tapi dengan pengobatan herbal setidaknya bisa mengurangi risiko kesehatan tersebut.

"Yang paling masuk akal untuk multivitamin korban dan relawan bencana berdebu seperti Merapi adalah yang berfungsi mengeluarkan debu dari paru-paru, salah satunya ramuan herbal," jelas dr Hardhi Pranata SpS, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia (PDHMI) saat dihubungi detikHealth, Jumat (5/11/2010).

Menurut dr Hardhi, minum ramuan-ramuan herbal asli Indonesia yang mudah dijumpai seperti kapulaga, meniran, jahe mampu membantu mengeluarkan debu dari paru-paru.

"Kencur dan kunyit dicampur jeruk nipis dan satu sendok kecap juga efektif mengeluarkan dahak dan riak dari saluran pernapasan, jadi bisa mengeluarkan debu-debu yang masuk saluran pernapasan," jelas dr Hardhi lebih lanjut.

Tak hanya itu, dr Hardhi mengatakan mengeluarkan dahak atau lendir dari saluran pernapasan juga bisa dilakukan dengan pengobatan gurah (pengobatan tradisional dengan mengeluarkan lendir yang kotor, beracun dan mengandung berbagai kuman penyakit) atau dengan menghirup daun mentol.

"Selain berfungsi mengeluarkan debu dari saluran pernapasan, ramuan herbal juga dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan bersifat antibakteri," tambah dr Hardhi.

Ramuan herbal seperti klorofil dan spirulina juga dapat membantu korban bencana Merapi. Spirulina merupakan algae atau tumbuhan laut dalam yang mampu hidup dengan kondisi yang kurang sinar matahari dan oksigen.

"Jadi nggak heran kalau spirulina dan klorofil punya kemampuan mengikat banyak oksigen di aliran darah. Ini cocok untuk daerah yang berdebu, tapi sayang spirulina biasanya banyak terdapat di kota besar, jadi agak susah ditemukan di daerah bencana," jelas dr Hardhi.

dr Hardhi sendiri lebih menyarankan untuk menggunakan ramuan herbal cair yang mudah didapatkan dan sangat bermanfaat untuk daerah bencana Merapi.

"Saya malah menyarankan kalau produsen-produsen jamu yang ada di dekat daerah bencana mau ramai-ramai menyumbangkan jamunya untuk korban dan relawan Merapi. Jangan hanya mi instan saja, tetapi obat-obatan juga. Nggak perlu multivitamin yang macam-macam atau antibiotik, jamu juga relevan," himbau dr Hardhi.



Masker Bedah Kurang Maksimal untuk Menyaring Debu

Jumat, 05/11/2010 18:21 WIB

Masker Bedah Kurang Maksimal untuk Menyaring Debu

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth




img
Masker bedah (dok: detikfoto)
Jakarta, Pengendara motor di Jakarta dan pengungsi di lereng Merapi banyak menggunakan masker bedah untuk menangkis debu. Meski masih lebih baik dibandingkan tidak pakai sama sekali, jenis masker yang paling dianjurkan adalah masker respirator.

Masker bedah merupakan jenis masker yang paling populer karena harganya murah meriah, hanya Rp 25.000/box (isi 50) atau Rp 500/buah. Biasanya berwarna hijau dan berbentuk segiempat, dengan ketebalan bervariasi dan dilengkapi pengait berupa tali elastis di kedua sisi.

Karena desainnya yang sangat sederhana, masker bedah umumnya agak longgar ketika dipakai. Banyak celah yang masih bisa disusupi oleh partikel debu, apalagi bahan yang digunakan umumnya tidak terlalu tebal dan hanya satu lapis.

"Masker bedah sebenarnya kurang melindungi, tapi masih lebih baik daripada tidak pakai sama sekali. Jika ada, sebaiknya pakai masker respirator yang bentuknya seperti cup," ungkap Dr Agus Dwisusanto, SpP, spesialis paru dari RS Persahabatan saat dihubungi detikHealth, Jumat (5/11/2010).

Selain lebih tebal, masker respirator juga lebih rapat ketika digunakan sehingga tidak ada celah untuk dilewati partikel debu. Tingkat keamanan masker respirator ditunjukkan oleh nomor serinya, misalnya N95 yang bisa menyaring 95 persen partikel dan N100 yang bisa menyaring hingga 99,97 persen.

Sama seperti masker bedah, pada umumnya masker respirator juga dibuat hanya untuk sekali pakai. Apabila sudah rusak, kotor atau menyebabkan susah bernapas maka harus segera diganti dengan masker baru yang masih bersih.

Sedangkan untuk menangkal gas beracun, masker respirator saja belum cukup aman. Ada jenis masker yang lebih ampuh memurnikan udara, yakni masker air-purifying respirator yang dilengkapi filter udara dan banyak dipakai oleh satuan tugas antiteror.

"Tapi untuk pengungsi Merapi rasanya tidak perlu yang ada moncongnya seperti itu (masker air-purifyingrespirator). Masker respirator saja kalau ada sudah sangat bagus," tambah Dr Agus.








(up/ir)