Tampilkan postingan dengan label Berenang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berenang. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Maret 2012

Tak Cuma Jago Berenang, Sperma Juga Pandai Berhitung

Jumat, 09/03/2012 18:59 WIB 

Tak Cuma Jago Berenang, Sperma Juga Pandai Berhitung

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

img
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta, Dari jutaan sperma yang dihasilkan laki-laki, semua punya tujuan yang sama yakni berenang secepatnya menuju sel telur. Namun prosesnya tak semudah yang dibayangkan, sebab gaya berenangnya harus disesuaikan dengan perhitungan tertentu.

Gaya berenang masing-masing sperma ditentukan oleh konsentrasi ion kalsium yang terdapat di ekornya. Konsentrasi ion kalsium tersebut bisa berubah-ubah tergantung kondisi lingkungan, sehingga gaya berenang tiap sperma juga bisa berubah-ubah.

Selama ini para peneliti mengira, gaya berenang sperma ditentukan oleh konsentrasi mutlak ion kalsium. Jika konsentrasinya tinggi, maka bentuk ekor sperma cenderung asimetris dan gaya berenangnya menjadi seperti cambuk karena berbelok-belok.

Demikian juga ketika konsentrasi ion kalisumnya rendah, maka bentuk ekor dan gaya berenangnya juga berubah. Bentuk ekor pada konsentrasi ion kalisum rendah cenderung simetris, sehingga gaya berenangnya lebih teratur dan memiliki lintasan yang cenderung lurus.

Namun penelitian terbaru yang dilakukan di Max Planck Societymenunjukkan, gaya berenang sperma-sperma tidak hanya ditentukan oleh tinggi rendahnya konsentrasi ion kalsium saja. Lebih rumit dari itu, semua sperma juga harus memperhitungkan perubahan konsentrasinya.

Untuk memastikannya, para ilmuwan menggunakan stroboscopic laser yang bisa mendeteksi pergerakan sperma sekaligus mengukur perubahan konsentrasi ion kalsium. Alat yang digunakan dalam penelitian itu digambarkan mirip laser yang dipakai di diskotik.

"Singkatnya: Sperma menguasai kalkulus," tulis para peneliti dalam kesimpulannya, seperti dikutip dari Sciencedaily, Jumat (9/3/2012).

Artinya sperma tidak sekedar menyesuaikan diri dengan konsentrasi ion kalsium secara mutlak, tetapi harus menyesuaikan diri lagi setiap ada perubahan konsentrasi. Dalam transisi dari konsentrasi tinggi ke rendah atau sebaliknya, gaya berenang sperma akan berputar-putar seperti spiral.


(up/ir)


http://health.detik.com/read/2012/02/14/182316/1842475/763/telan-air-mani-bisa-bikin-gemuk

Rabu, 15 September 2010

Tips Perawatan Rambut Setelah Berenang

Kamis, 15/07/2010 09:17 WIB

Tips Perawatan Rambut Setelah Berenang

Kiki Oktaviani - wolipop

img
Dok. Thinkstock
Jakarta - Berenang merupakan kegiatan yang menyenangkan. Jika memang Anda mempunyai hobi berenang, rambut perlu dilindungi dari klorin dan bahan kimia lainnya yang terkandung pada kolam renang.

Berikut perawatan rambut setelah berenang dengan menggunakan bahan-bahan alami
yang dapat dibuat sendiri:

Bahan yang dibutuhkan:
- 2 sendok makan baking soda
- 1/4 cangkir jus lemon
- 1 sendok teh shampo

Campur semua bahan tersebut menjadi satu, basahi rambut dan oleskan pada rambut. Pijatlah kulit kepala, kemudian tutup kepala dengan shower cap dan biarkan selama 30 menit. Kemudian bilas kembali rambut dengan shampo dan conditioner.

Perawatan ini bermanfaat untuk membebaskan rambut dari kekeringan setelah berenang dan mengembalikan kondisi rambut menjadi lebih sehat.
(kik/fer)

Minggu, 05 September 2010

Terhindar dari Depresi Hebat Karena Berenang

Minggu, 05/09/2010 13:16 WIB

Terhindar dari Depresi Hebat Karena Berenang

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth


img
Libby Trickett (dok: Herald Sun)
Sydney, Perenang asal Australia, Libby Trickett beberapa kali menjuarai olimpiade meski ibu dan 3 saudara kandungnya dinyatakan menderita depresi klinis. Secara genetik ia berisiko tinggi mengalami kondisi yang sama, namun olahraga telah menyelamatkannya.

Riwayat depresi di keluarga Libby terungkap 15 tahun lalu saat ia baru berusia 10 tahun. Perceraian yang terjadi di antara kedua orangtua membuat ia dan 3 kakak kandungnya mengalami goncangan jiwa yang hebat.

Goncangan paling berat dialami oleh kakak laki-laki Libby, Stuart yang kini berusia 29 tahun. Dokter yang merawatnya mengatakan, pria itu mengalami gangguan kejiwaan berupa kegelisahan dan depresi klinis akibat perceraian tersebut.

Gangguan itu diduga kuat dipicu oleh faktor genetik, sebab 2 kakak perempuan Libby yakni Victoria (30) dan Justine (32) juga mendapatkan diagnosis serupa. Kemungkinan gen itu diturunkan dari sang ibu, Marilyn Lenton yang secara sangat kebetulan juga menunjukkan gejala depresi sejak saat itu.

Meski menimpa hampir seluruh keluarga, kondisi itu tidak terjadi pada Libby yang menekuni olahraga renang sejak usia sangat muda. Ia bahkan sukses mengukir prestasi di tingkat dunia, melalui sejumlah rekor serta emas olimpiade yang sering diraihnya.

Gejala yang mencirikan bahwa sebenarnya ia punya potensi untuk mengalami depresi kembali muncul setelah ia mundur dari olahraga tersebut, pada Desember 2009. Ia menggambarkan beberapa bulan sejak saat itu sebagai periode gelap, ketika rasa kesepian mulai sering ia rasakan meski berada di antara teman-temannya.

"Secara klinis belum ada dokter yang mendiagnosis kondisi ini sebagai depresi klinis, tapi yang saya rasakan hidup saya benar-benar datar dan selalu mengingat banyak momen kehilangan," ungkap Libby seperti dikutip dariNews.com.au, Minggu (5/9/2010).

Keputusan untuk mengundurkan diri memang dibuat pada saat Libby berada di puncak sukses. Pada saat itu ia sudah merasa puas dan sudah tidak mempunyai target lain yang ingin ia capai sebagai seorang atlet profesional.

Namun karena merasa bahwa renang telah banyak membantunya melewati saat-saat sulit, Libby kini mengumumkan untuk kembali ikut kejuaraan resmi mulai bulan September ini. Sepertinya ia tak ingin periode gelap itu berlanjut lalu berkembang menjadi gangguan jiwa yang lebih serius.

Atas keputusannya tersebut, sejumlah penghargaan datang tidak hanya dari dunia olahraga. Sebuah organisasi nirlaba untuk penderita depresi, Black Dog Institute's Exercise Your Mood Week bahkan menobatkan Libby sebagai duta.

Direktur organisasi tersebut, Gordon Parker mengaku kagum pada semangat hidup Libby. Ia berharap semangat itu bisa dicontoh oleh para penderita depresi untuk dapat lebih meningkatkan kualitas hidupnya.

Menurutnya, olahraga tidak hanya mengalihkan pikiran negatif tetapi juga menstimulasi hampir semua syaraf dan neurotransmiter yang bertanggung jawab terhadap berbagai bentuk gangguan kejiwaan. Oleh karena itu penderita depresi dianjurkan untuk berolahraga sekitar 15-30 menit perhari, dengan sesekali melakukannya di bawah sinar matahari.

Di Australia, depresi terjadi pada 1 di antara 5 orang dewasa. Sementara itu organisasi kesehatan dunia WHO meramalkan, gangguan kejiwaan tersebut bakal menjadi salah satu penyebab kecacatan pada tahun 2030.

(up/ir)